Tingginya animo usaha ternak di Indonesia menimbulkan permasalahan yang kompleks, diantaranya adalah permintaan kuantitas ternak yang tinggi dan asupan ternak itu sendiri.
Untuk mensiasati permasalahan itu, maka beberapa produsen ternak ada yang membuka usaha pakan ternak dengan harapan selain untuk mencukupi kebutuhan nya sendiri, juga dapat memberikan nilai ekonomis dengan penjualan pakan itu sendiri. Namun sejalan dengan itu harus dibuat dokumen Kajian Lingkungan sebelum mendirikan pabrik pakan tersebut, agar dampak yang mungkin terjadi dapat dikelola dan dipantau semaksimal mungkin.
Kegiatan produksi pakan ternak umumnya menimbulkan dampak antara lain pada proses filling bahan baku, dan proses penghancuran bahan baku. Sedangkan secara umum, dampak yang terjadi adalah dampak –dampak umum Pra konstruksi dan konstruksi saat pembangunan pabrik pakan ternak antara lain : Tahap Pra Konstruksi
Kegiatan pada tahap prakonstruksi diperkirakan berupa timbulnya persepsi dan keresahan masyarakat disekitar lokasi rencana pembangunan Pabrik Produksi Pakan Ternak karena dikhawatirkan kegiatan tersebut menimbulkan dampak negative bagi warga sekitar dan lingkungan. Tahap Konstruksi Pada tahap ini yang dilaksanakan adalah pembangunan konstruksi pabrik. Pembangunan dapat dilakukan oleh pihak ketiga (kontraktor) atau dapat juga dilakukan oleh pemrakarsa itu sendiri. Dampak yang mungkin terjadi di tahap ini adalah dampak SOSEKBUDMAS, Penurunan kualitas udara, air dan tanah akibat aktivitas konstruksi, keselamatan kerja bagi pekerja dan keselamatan warga, ketertiban umum, kebersihan, Bangkitan lalu lintas dan Kesempatan kerja.
Tahap Operasi Pada tahap ini dampak yang umum terjadi adalah dampak dari detail prosesproduksi itu sendiri. Secara umum, proses produksi pabrik pakan ternak terdiri dari :
a. Poultry Feed System Poultry Feed System adalah proses pengolahan bahan baku pakan ternak untuk hewan ayam, babi dan sapi. Proses ini diawali dengan memasukkan bahan baku ke penampung, kemudian di takar dengan mesin dosing yang diatur dengan komputerisasi. Setelah melewati tahap penakaran bahan baku, maka tahap selanjutnya adalah penggilingan atau penghancuran bahan baku tersebut menjadi partikel yang berukuran lebih kecil. Ukuran partikel konsentrat ini berbeda-beda berdasarkan kebiasaan dalam pemberian pakannya. Selanjutnya masuk ke dalam proses pelleting. Pabrik pakan dalam skala besar umumnya dilengkapi dengan peralatan yang lebih komplit, sehingga mesin pelleting dijalankan dengan komputerisasi. Pellet yang sudah dingin siap di packing untuk kemudian distribusikan. Para peternak sapi perah umumnya menghendaki adar tekstur konsentrat lembut dengan ukuran saringan (srceen) 4mm. Hal ini berhubungan dengan kebiasaan pemberian pakan yang dicampur air. Pemberian pakan dalam keadaan basah ini sebetulnya kurang baik, mengingat konsentrat yang tersisa dalam bak pakan akan menjadi asam dan menjadi sumber penyakit (tumbuhnya bakteri pathogen) yang dapat menyebabkan ternak sakit.
b. Extruding system Extruding system adalah proses pembuatan pakan untuk ikan. Proses ini dimulai dari memasukkan bahan baku di intake, setelah ditakar di mesin dosing kemudian dilakukan fine grinding yaitu penghancuran bahan baku menjadi berukuran lebih kecil dari ukuran yang umum untuk pakan ternak yaitu lebih kecil dari 4 mm. setelah di grinding kemudian bahan baku di campur di mesin mixing, setelah dicampur di mesin mixing, maka bahan baku akan masuk ke mesin extruding, didalam mesin ini terjadi steaming dengan tekanan sangat tinggi sehingga kadar air akan naik drastis. Setelah menaikkan kadar air lewat proses steaming, maka yang selanjutnya dilakukan adalah usaha penghilangan kadar air dengan pendinginan yang bertujuan agar bahan baku dapat mengapung (coating). Setelah itu, pakan di packing dan di distribusikan. Dari segi fisik, makanan ikan ini berbentuk mash atau tepung.
c. Premixes Premixed (premix) adalah suatu campuran permulaan dengan bahan pengencer (diluent) atau pembawa (carrier) yang kemudian akan digunakan dalam pembuatan konsentrat atau ransum. Didalam perdagangan istilah premix ini adalah gabungan bermacam-macam vitamin dan mineral dengan komposisi/imbangan yang dengan cermat telah diperhitungkan termasuk dosis pemakaiannya dalam setiap pencampuran konsentrat atau ransum. Dalam industri pakan ternak yang terkandung dalam premix ini menjadi salah satu rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang lain selain petugas khusus. Premix ini biasa terdiri dari bahan sumber vitamin makro dan mikro, mineral makro dan mikro serta additives yang dibuat dalam jumlah yang sedikit dan harus terdistribusi merata dalam ransum atau konsentrat yang akan dibuat, antara lain Vitamin A, D3, E, Kalsium, Fosfor, Cobalt, Copper, Iodine, Besi, Mangan, Selenium, dan Zinc dengan konsentrasi yang berbeda.
Pembuatan premix di pabrik pakan, adalah berbagai macam vitamin, mineral dan bahan bahan lain yang akan digunakan dalam jumlah sedikit, terlebih dahulu dicampurkan sebelum dimasukan kedalam mesin pencampur (mixer), kemudian setelah sesuai dalam teknik pencampuran dan quality control, premixes siap di packing dan di distribusikan.
Pada bahan pembuat premix dimana penggunaan bahan tersebut perlu mendapat perhatian khusus, khususnya terhadap kandungan zat-zat yang sifatnya membahayakan dalam dosis yang berlebih.
Selain itu perlu diperhatikan juga limbah dari pembersihan ceceran debu dan kebutuhan air pada saat produksi agar dapat dikelola dengan baik dari segi kualitas dn kuantitas.
( Diambil dari Intisari Dokumen UKL UPL Pakan Ternak Di Singkawang, Kalimantan Barat, Oleh Sera Envirotama Consultant)
Post a Comment